Masjid Merah (Masjid Nurbuat): Ikon Religi dan Budaya di Kelurahan Kalijaga
Masjid Merah Nurbuat, Kebanggaan Warga Kalijaga
Masjid Merah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Nurbuat merupakan salah satu destinasi wisata religi yang berada di Kampung Kedung Menjangan, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Keberadaan masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat setempat karena memiliki arsitektur yang unik, nilai sejarah yang menarik, serta berbagai tradisi keagamaan yang masih lestari hingga saat ini.
Masjid ini dikenal masyarakat luas sebagai "Masjid Merah" karena dominasi warna merah pada bangunannya. Warna tersebut memberikan ciri khas tersendiri sehingga mudah dikenali oleh para pengunjung maupun peziarah yang datang dari berbagai daerah.
Sejarah Berdirinya Masjid Nurbuat
Awalnya, Masjid Nurbuat hanyalah sebuah musala sederhana yang digunakan warga sekitar untuk beribadah. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pembangunan masjid ini berawal dari mimpi pendirinya, Kang Rokhim, yang mendapat petunjuk dari ulama besar Aceh, Syekh Abdurrahman Rauf As-Singkili, untuk mendirikan sebuah masjid di kawasan Kedung Menjangan yang pada waktu itu masih belum ramai penduduk.
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah proses pembangunan masjid yang konon dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar 100 malam atau 100 hari. Pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh warga dan jamaah setempat dengan semangat kebersamaan yang tinggi. Kisah ini kemudian menjadi bagian dari sejarah dan daya tarik tersendiri bagi Masjid Nurbuat.
Keunikan Arsitektur
Keistimewaan utama Masjid Nurbuat terletak pada arsitekturnya yang memadukan berbagai unsur budaya, yaitu budaya Cirebon, Demak, Kudus, dan Tionghoa. Perpaduan tersebut mencerminkan sejarah Kota Cirebon sebagai daerah yang kaya akan akulturasi budaya.
Beberapa ciri khas arsitektur Masjid Nurbuat antara lain:
Dominasi warna merah pada bangunan dan pagar masjid.
Bentuk atap menyerupai pagoda yang kental dengan nuansa Tionghoa.
Ornamen dan detail bangunan yang mengadopsi gaya Masjid Demak dan Masjid Kudus.
Adanya memolo atau mahkota atap khas arsitektur Kesultanan Cirebon.
Di dalam masjid terdapat 17 tiang utama yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam. Sementara itu, jumlah tiang lainnya memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan amalan dzikir umat Islam.
Tradisi dan Kegiatan Keagamaan
Masjid Nurbuat tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan adalah kegiatan manakiban atau pembacaan riwayat hidup Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang diselenggarakan setiap tanggal 11 menurut kalender Jawa. Kegiatan ini dihadiri jamaah dari berbagai daerah di Cirebon bahkan luar provinsi.
Selain itu, masjid juga menjadi tempat pelaksanaan pengajian, peringatan hari besar Islam, santunan sosial, dan berbagai kegiatan kemasyarakatan yang mempererat hubungan antarwarga.
Potensi Wisata Religi
Dengan keunikan arsitektur, nilai sejarah, dan tradisi yang dimiliki, Masjid Merah Nurbuat telah berkembang menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kota Cirebon. Banyak pengunjung datang untuk beribadah, mempelajari sejarah masjid, maupun mengagumi keindahan bangunannya yang berbeda dari masjid pada umumnya.
Penutup
Masjid Merah Nurbuat merupakan salah satu aset berharga Kelurahan Kalijaga yang mencerminkan kekayaan budaya, sejarah, dan spiritualitas masyarakat Cirebon. Keunikan arsitekturnya yang memadukan unsur Cirebon, Demak, Kudus, dan Tionghoa menjadikan masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kerukunan budaya dan destinasi wisata religi yang patut dilestarikan oleh generasi mendatang.